Dari Buruh Panggul Semen, Kini Berseragam Calon Srikandi Bhayangkara
- Selasa, 06 Oktober 2026
RIAURAYA.TV, JAKARTA — Gadis cantik ini kembali menarik perhatian warganet. Dulu ia viral sebagai kuli panggul semen. Kini, dia kembali dengan kondisi yang berbeda. Berseragam siswa Sekolah Polisi Wanita (Sepolwan), kawah candradimuka calon Srikandi Bhayangkara.
Dalam salah satu video yang baru beredar, Nur Halisa juga terlihat bersama mantan Wakapolri, Komjen Pol (Purn) Dedi Prasetyo.
Bagi sebagian orang, seperti dikutip dari Palopopos.co.id, perubahan itu mungkin terlihat seperti sebuah lompatan besar. Namun bagi Nur Halisa, perjalanan tersebut merupakan hasil dari langkah-langkah kecil yang selama ini ia jalani dengan tekun.
Ada keringat, ada lelah, ada perjuangan membantu keluarga. Dan ada mimpi yang terus ia simpan. Kini, mimpi itu perlahan menemukan jalannya.
Angkat Sak Semen untuk Keluarga
Sosok perempuan yang sempat mencuri perhatian warganet ini bukanlah seseorang yang mudah menyerah pada keadaan. Sejak masih bersekolah, Nur Halisa diketahui telah membantu orang tuanya.
Ia bekerja membongkar semen dari truk, kemudian mengangkutnya menuju toko bangunan. Pekerjaan yang tentu tidak ringan itu dijalaninya dengan penuh ketekunan.
Tubuhnya harus menahan beban beratnya sak semen. Tangannya harus bekerja kasar meski rasa lelah datang silih berganti.
Namun, Nur Halisa tidak menjadikan pekerjaan tersebut sebagai sesuatu yang harus disembunyikan. Justru dari pekerjaan itulah publik melihat sisi lain dirinya: seorang perempuan muda yang mau bekerja keras demi keluarga.
Tidak hanya itu. Ia juga kerap menyampaikan pesan tentang pentingnya bekerja keras, bersyukur, dan berbakti kepada orang tua.
Bagi Nur Halisa, membantu keluarga bukan sebuah beban yang harus dikeluhkan. Itu adalah bagian dari perjuangan hidup. Dan perjuangan tersebut ternyata tidak berhenti di toko bangunan.
Menempuh Pendidikan di Sepolwan
Waktu berjalan. Perempuan yang dahulu terlihat mengangkat sak semen itu kini berada di lingkungan pendidikan kepolisian. Nur Halisa tercatat sebagai siswi Diktuk Bintara Polwan (Diktuk: Pendidikan Pembentukan). Lembaga pendidikan Polri, yang mencetak polisi wanita.
Sepolwan berada di bawah Lembaga Pendidikan dan Pelatihan Polri dan berlokasi di Jalan Ciputat Raya Nomor 41, Pondok Pinang, Jakarta Selatan. Pendidikan pembentukan Polwan berlangsung selama tujuh bulan.
Dia masuk Sepolwan setelah menyelesaikan pendidikannya di Universitas Negeri Makassar (UNM) jurusan Pendidikan Olahraga. Lulus dengan predikat Cumlaude pada Januari 2024.
Perjalanan itu menjadi pengingat bahwa latar belakang seseorang tidak selalu menentukan sejauh mana ia akan melangkah. Yang sering kali menjadi pembeda adalah keberanian untuk terus berusaha.
Pernah Bermimpi Menjadi Kowad
Cita-cita menjadi abdi negara sebenarnya bukanlah impian yang baru muncul dalam diri Nur Halisa. Dalam sebuah wawancara pada 2023, ia pernah mengungkapkan keinginannya untuk menjadi prajurit Korps Wanita Angkatan Darat (Kowad).
Saat itu, ia juga pernah berharap dapat bertemu dengan Panglima TNI. Mimpi tersebut memperlihatkan bahwa sejak dulu Nur Halisa telah memiliki keinginan untuk mengabdikan dirinya kepada negara.
Dari Pencak Silat hingga Seragam Polisi
Semangat Nur Halisa untuk terus berkembang juga terlihat dari kegemarannya terhadap bela diri. Seperti sang kakak, ia menggeluti pencak silat dan pernah mengikuti berbagai kompetisi.
Bela diri bukan hanya soal kemampuan fisik. Di dalamnya terdapat latihan disiplin, keberanian, ketekunan, dan kemauan untuk terus bangkit ketika menghadapi kesulitan.
Nilai-nilai itulah yang tampaknya ikut menemani perjalanan Nur Halisa. Dari lantai tempat ia bekerja mengangkat semen, menuju arena latihan bela diri, hingga akhirnya berada di lingkungan pendidikan kepolisian.
Perjalanan yang Belum Selesai
Kisah Nur Halisa bukan sekadar cerita tentang seorang buruh angkut semen yang kemudian menjadi siswa Sepolwan. Lebih dari itu, kisah tersebut berbicara tentang keberanian untuk bermimpi meski keadaan tidak selalu mudah.
Tentang seorang anak yang memilih membantu orang tuanya daripada malu dengan pekerjaan yang dilakukannya.
Tentang tangan yang dahulu kasar karena mengangkat sak semen, tetapi tidak pernah berhenti mengejar harapan. Dan tentang mimpi yang tetap dijaga, meski jalan untuk mencapainya harus ditempuh perlahan.
Sebuah perjalanan yang mengajarkan bahwa terkadang, mimpi tidak datang dengan jalan yang mudah. Tetapi selama langkah terus diayunkan, harapan selalu memiliki kesempatan untuk menemukan jalannya.
Awal Mula Jadi Kuli
Dikutip dari Tribunnews.com, Nur Halisa merupakan gadis asal Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan. Gadis kelahiran 2005 itu merupakan anak keempat dari lima bersaudara.
Dia mulai dikenal publik setelah video dirinya bekerja sebagai kuli pengangkut semen viral pada awal 2022. Ia bekerja sebagai kuli setelah menyelesaikan pendidikan di SMK Negeri 2 Pinrang, jurusan Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ).
Pada 2023, ia tercatat menjadi mahasiswa Universitas Negeri Makassar (UNM) dengan mengambil jurusan olahraga. Ia aktif mengikuti berbagai kejuaraan pencak silat. Sejumlah prestasi pun berhasil diraihnya hingga beberapa kali naik podium.
Tak hanya pencak silat, Nur Haliza juga kerap mengikuti berbagai event lari yang digelar di sejumlah daerah di Pulau Sulawesi.
Di luar aktivitasnya sebagai mahasiswa dan atlet, Nur Haliza juga dikenal sebagai selebgram. Akun Instagram miliknya @nurhalisa1__, kini telah memiliki sekitar 520 ribu pengikut.
Popularitas tersebut turut membuka sejumlah peluang bagi Nur Haliza. Ia bahkan dipercaya menjadi brand ambassador untuk beberapa merek.
Perjalanan Nur Halisa membantu orang tuanya bekerja sebagai kuli pengangkut semen ternyata sudah dilakukannya sejak masih duduk di bangku SMP.
Kakak Nur Halisa, Nur Aini, mengungkapkan, dirinya bersama sang adik terbiasa membantu pekerjaan orang tua mengangkut semen. Awalnya, ia hanya melihat sang ibu bekerja mengangkut semen hingga pulang larut malam.
"Saya awalnya cuma memasak. Bapak saya sama Mama kerja angkat-angkat semen. Saya berpikir setiap malam, waktu masih kecil, setiap malam Mama saya pulang sampai tengah malam," ujar Nur Aini, dikutip dari kanal YouTube Tribun Timur.
Melihat kondisi tersebut, Nur Aini mulai bertanya-tanya mengapa sang ibu harus bekerja hingga larut malam. Lama-kelamaan, rasa penasaran itu membuatnya mencoba ikut membantu pekerjaan sang ibu.
"Awalnya ikut cuma lihat-lihat. Terus lama-lama dicoba-coba ikut. Oh ternyata susah, ternyata begini pekerjaannya Mamak saya," tuturnya.
Nur Aini mengaku pada awalnya tubuhnya terasa sakit karena belum terbiasa mengangkat semen. Namun, setelah dilakukan berulang kali, ia mulai terbiasa dengan pekerjaan tersebut.
"Awalnya memang berat, tapi kalau lama-kelamaan sudah dibiasakan. Di situ juga adik saya karena saya ikut, dia ikut juga," jelasnya.
Kini, Nur Halisa dan keluarganya terbiasa bekerja bersama mengangkut semen. Dalam sehari, satu keluarga bahkan bisa mengangkat hingga satu mobil atau sekitar 851 sak semen.
"Diangkat semua satu keluarga," katanya.
Upah kuli panggul atau buruh angkut semen di Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan, umumnya berkisar antara Rp500 hingga Rp600 per sak semen.
Tarif ini mengacu pada standar upah borongan pengangkatan semen dari truk atau mobil muatan menuju gudang toko bangunan di wilayah tersebut.
Menggunakan sistem Borongan. Untuk satu kali pembongkaran truk besar yang biasanya berisi sekitar 800 hingga 850 sak, total pendapatan kelompok pekerja berkisar antara Rp400.000 hingga Rp450.000. Upah ini nantinya dibagi rata berdasarkan jumlah personel kuli panggul yang ikut bekerja.
Kisah Nur Halisa menjadi kuli pengangkut semen kemudian viral setelah ia membuat konten di sela-sela pekerjaannya. Nur Aini mengaku tidak pernah menyangka aktivitas sederhana tersebut justru mendapat perhatian luas dari masyarakat.
Meski menjalani pekerjaan yang cukup berat, Nur Aini menegaskan dirinya tidak pernah merasa malu ataupun gengsi. Ia mengatakan, sejak kecil orang tuanya selalu mengajarkan agar tidak malu dengan pekerjaan yang dilakukan selama pekerjaan tersebut halal.
"Tidak pernah sedikit pun malu karena saya diajarkan orang tua saya bahwa apa pekerjaan jangan pernah malu, jangan pernah gengsi," ujarnya.
Bagi Nur Aini, ikut mengangkut semen bukan hanya untuk mendapatkan penghasilan, tetapi juga membantu orang tuanya.
"Karena itulah pekerjaan orang tua, jadi mau tidak mau tetap saya ikut sama dengan mereka. Jadi ibarat kata ini adalah membantu juga pekerjaan orang tua," pungkasnya.***
Video Lainnya
Notice: Use of undefined constant tag - assumed 'tag' in /home/u6048245/public_html/riauraya.tv/template/page/berita.php on line 147

